Skip to main content

Harga mu berapa sih? Membedah Gaji Melalui Ekonomi.

Orang secara umum selalu merasa dirinya berada di atas rata-rata, atau setidaknya selalu ingin berada di atas rata-rata. Caranya pun bervariasi dari dengan belajar sungguh-sungguh, sampai menjatuhkan kompetitornya dengan kata-kata yang menjatuhkan mental. Banyak yang selalu bilang kalau mereka banyak yang merasa tidak di hargai di pekerjaannya, atau merasa tidak di hargai dengan client-nya. Dengan tulisan ini, saya ingin mengajak anda untuk menulusuri lebih dalam mengenai "harga", apa yang membuat kamu di hargai murah atau mahal, dan faktor apa saja yang mempengaruhi harga.

Saya punya teman seorang fotografer, pada saat itu beliau cerita mengenai pekerjaan freelance-nya, dan tiba-tiba saya tanya sama beliau, kenapa ngga foto-fotonya di kirim ke majalah saja, karena menurut saya foto dia cukup bagus dan layak di masukan ke majalah sekelas rolling stone atau lifestyle magazine lainnya. Lalu teman saya mengatakan bahwa majalah-majalah besar di Indonesia tidak mau membayar dengan harga yang "layak" untuk fotografer, lalu beliau melanjutkan dengan berkata bahwa fotografer di Indonesia itu kurang di hargai. Terus dengan secara skiptis saya mencari tau kenapa teman saya bisa bilang seperti itu. Dengan naluri ekonomi dasar, saya lihat dari sisi jumlah fotografer yang ada di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Pada saat itu, fenomena fotografi memang sedang menjadi sensasi untuk anak muda Jakarta, dan hampir setiap mahasiswa dan pelajar SMA memiliki kamera DSLR, padahal harga kameranya bisa di bilang cukup mahal, 1 kamera harganya bisa mencapai 15juta rupiah. Setelah melihat dari sisi jumlah fotografer, saya kemudian mecari tahu kenapa fenomena ini sangat happening di kalangan anak muda. Kebetulan, saya ingin tau bagaimana rasanya mengambil foto dengan kamera DSLR itu, dan setelah saya mencoba jeprat jepret sedikit, ternyata memang sangat mudah untuk bisa mendapatkan foto yang bagus (mungkin tidak sebagus teman saya) dan sama sekali tidak memerlukan usaha yang banyak. Setelah mengetahui cara memakai dan hasil foto dari kamera DSLR, tidak heran jika semua orang ingin menjadi fotografer - karena hasil yang cukup maksimal, dengan usaha yang amat sedikit. 

Hukum ekonomi dasar yang di cetuskan oleh Adam Smith, mengenai invisible hand - atau tangan yang tak terlihat - dimana harga di tentukan dengan persediaan (supply) dan permintaan (demand) yang ada di pasar. Pada dasarnya, jika terlalu banyak persediaan tetapi tidak banyak permintaan, maka harga akan turun, dan sebaliknya jika persediaan tidak terlalu banyak tetapi banyak permintaan, maka harga akan naik. Harga akan di tentukan oleh pembeli yang sanggup membeli dengan harga paling mahal, dan penjual yang dapat mejual dengan harga paling murah. Ini penjelasan paling dasar dari hukum ekonomi. 

Sekarang jika kita kaitkan dengan fenomena fotografi di atas, dengan mudahnya mengambil gambar dari kamera DSLR, membuat banyak orang ingin menjadi bagian dari fenomena ini. Hasilnya, pemilik majalah memiliki banyak pilihan fotografer dan pihak majalah akan memilih foto yang paling bagus dan tentunya yang paling murah. Jadi, sebenarnya bukannya di Indonesia fotografer tidak di hargai, tapi saking banyaknya fotografer di Indonesia, banyak yang rela di bayar berapa pun, yang penting hasil karyanya bisa masuk majalah. Mungkin untuk beberapa fotografer, bisa masuk majalah lebih penting di banding bayarannya. Mereka rela di bayar sekecil apapun yang penting nama mereka bisa tercantum di majalah itu dan di lihat oleh majalah-majalah lain. Ini jelas sangat beresiko, karena jika tidak ada yang melihat namanya, jadinya yaa.....dia sama saja seperti fotografer lainnya, dan karyanya mungkin sangat biasa di mata publik, sehingga kurang berkesan. 

Di samping fotografer, ada teman saya juga bercerita bahwa dia belum punya pengalaman kerja apapun, tetapi sudah memiliki gelar S2 dari luar negri. Terus dia lanjut bercerita bahwa dia sudah menolak beberapa tawaran kerja dari perusahaan karena menurut dia gajinya terlalu kecil, dan benefit yang di tawarkan oleh perusahaannya pun tidak terlalu memuaskan menurut dia. Ini yang saya maksud dengan menilai dirinya di atas rata-rata, karena dia sudah lulus S2 dari luar negri, maka dia berhak untuk menawar dengan harga di atas rata-rata, padahal kerja dan kuliah adalah dua hal yang sangat amat berbeda. Jika kita berada di posisi si perusahaan ini, akan lebih menguntungkan jika kita cari yang kualitasnya sama atau sudah ada pengalaman kerja tapi mau di bayar murah - selama supply atau pelamar untuk pekerjaannya banyak. Kenapa ini akan menguntungkan sang perusahaan? Karena kita bisa mendapatkan pekerja yang lebih murah, jika belum ada pengalaman kerja, pelatihan tidak akan memakan waktu terlalu lama, lebih baik lagi jika sudah ada pengalaman kerja, dimana kita bisa melatih si pekerja dengan cepat, dan si pekerja bisa cepat berorganisasi di pekerjaan barunya. Jadi pada intinya, selama ada calon pekerja yang berkualifikasi dan bisa menerima gaji berapa pun, harga pasar untuk pekerjaan itu akan sangat kompetitif sekali. 

Saya akan menjelaskan satu profesi lagi, yang sebagian besar orang merasa sebagai profesi yang kurang di hargai - graphic designer. Ini tidak beda jauh dengan profesi fotografi, dimana untuk bisa mendapatkan hasil yang cukup bagus, tidak memerlukan usaha yang terlalu banyak, tetapi yang memperburuk profesi ini adalah software bajakan yang harganya jauh sangat murah di banding yang original. Dengan adanya software bajakan, orang yang sama sekali tidak mempelajari graphic design atau yang tidak berprofesi sebagai graphic designer/illustrator dapat membelinya dengan sangat murah dan mempelajarinya sendiri melalui buku atau trial and error. Dengan adanya akses software bajakan yang sangat murah dan mudah di dapat, profesi ini terancam menjadi profesi yang underpaid atau yang gajinya di bawah rata-rata. Jika software nya susah untuk di dapat, atau tidak ada yang bajakan, profesi ini bisa di bilang profesi yang cukup elit karena untuk memulainya mahasiswa harus mengeluarkan uang minimal 15juta untuk membeli software nya sendiri (yang asli), dimana yang bajakan cukup dengan uang Rp. 50,000.00 saja. 

Tulisan ini tentu hanya melihat dari sisi ekonomi saja, pastinya banyak unsur lain yang dapat membedakan harga, apalagi di bidang seni rupa dan fotografi. Pada dasarnya, tulisan pendek ini mengajak anda untuk berfikir secara kritis mengenai harga, ajaran dasar mengenai harga dan unsur dasar apa saja yang membentuk suatu harga. Lain kali anda merasa tidak di hargai di tempat kerja anda, coba anda bercermin dan bertanya "kenapa di bayarnya cuma segini?" dan berfikir secara mendalam mengenai hal itu. Karena kadang bukannya tidak di hargai, tetapi memang pasar mengatakan seperti itu. Selama ada yang lebih murah dengan kualitas yang sama dan tidak banyak permintaan, maka harganya akan bersaing.

Comments

  1. Good things!

    Hahahhaha jd inget percakapan gw sama bos beberapa hr yg lalu masalah gaji.
    Malah gw lbh mikir kalo gaji itu ga bs d sama rata sesuai job title. Some ppl do some job title at once.

    Kalo jam terbangnya banyak harusnya sallarynya lumayan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sudah familiar dengan kerjaannya, maka harapan perusahaan akan naik ke si pekerja, dan pastinya harus bisa lebih produktif (jam terbang). Dengan produktifitas yang tinggi, banyaknya tanggung jawab akan membawa si pekerja naik jabatan - jadi naik juga deh gajinya. ;)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hutang Indonesia yang ga Karuan itu...

Sepertinya saya harus menulis sekarang karena sudah terlalu lama tidak berbagi, dan lagi-lagi saya terlibat debat yang agak membuat saya sedikit kesal dengan kolega saya di kantor. Sebenarnya sepele, tetapi kolega saya ini tidak memaparkan fakta-fakta yang ada – yaa bisa lah disamain sama pak Trump yang kerjaannya cuma berkoar-koar tapi isinya nol dan tidak solutif. Perdebatan ini dimulai dengan diskusi santai mengenai keadaan ekonomi global dan juga domestik. Pada saat itu saya berkomentar bahwa setelah Federal Reserve Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate , sepertinya dollar akan menguat dan pasar saham Indonesia akan sedikit melemah (tapi ternyata saya salah besar – yaaa…….nama juga memprediksi ya, kan bukan dukun juga ;P ). Kemudian saya juga berkomentar mengenai perusahaan pemeringkat kredit dari AS, Standard & Poor (S&P) yang kemungkinan akan menaikkan peringkat Indonesia Sovereign Bond menjadi investment grade – dari BBB- ke BBB. Saya berkat...

Sinarmas Bank Q2 Review

Despite lower net income compare the same period last year, Sinarmas have increased revenue by 41% yoy and increased its credit funds flow by 20% in the first half of 2014 where they aim to have 30% growth by the end of 2014. Operating expense increased by 45% yoy and COGS also increased by 48% which resulting a lower net income in 2Q 2014. In spite of all the increase in outflow and decreased in Net, Sinarmas claimed that the Loan to Value regulation does not impact their business operations in Credit automobile sector because most of the credit holder are those who buys cars instead of motorcycle, which have less risk. Sinarmas will also open 1,000 new branch office starting 2016 to support the growth of the company. With its massive growth in revenue, Sinarmas Bank seems to have a promising future. With relative small ROE of 3% in 2Q2014, it is still a cheap buy for those looking for a long term investment. Keep in mind that it is still a small cap company, and it is not as l...

A&Co July Result

After 3 months beating the market constantly, the Jakarta Stock Index (JKSE) finally beat our portfolio by 0.87%, not much, but it is still a disappointment. The grey line represents the abnormal return (Portfolio return - Index return) of the portfolio. Despite that, we made 74% from BSIM, and officially sold it on the 21st of July when the price suddenly jump 20% in just one day - which we thought a little bit weird and looks like it's going to be a rough ride going forward - hence we let it go. Despite the weird action, BSIM was one of our top stock, its monthly average was 19.92%, whereas its median is 0%, LITERALLY 0%, the high average is due to the sharp movement of 20% in one day. Our second top stock is ELSA, this stock also had a weird sharp movement on 13th of July, it jump to 58% in just one day, almost double in just one day. Unlike BSIM though, ELSA has a fairly high liquidity, thus we weren't very surprise on the big movement, and still have big hope with ELS...