Sepertinya
saya harus menulis sekarang karena sudah terlalu lama tidak berbagi, dan
lagi-lagi saya terlibat debat yang agak membuat saya sedikit kesal dengan
kolega saya di kantor. Sebenarnya sepele, tetapi kolega saya ini tidak memaparkan
fakta-fakta yang ada – yaa bisa lah disamain sama pak Trump yang kerjaannya cuma
berkoar-koar tapi isinya nol dan tidak solutif.
Perdebatan
ini dimulai dengan diskusi santai mengenai keadaan ekonomi global dan juga domestik.
Pada saat itu saya berkomentar bahwa setelah Federal Reserve Amerika Serikat
(AS) menaikkan suku bunga acuan Fed Fund
Rate, sepertinya dollar akan menguat dan pasar saham Indonesia akan sedikit
melemah (tapi ternyata saya salah besar – yaaa…….nama juga memprediksi ya, kan
bukan dukun juga ;P ). Kemudian saya juga berkomentar mengenai perusahaan
pemeringkat kredit dari AS, Standard & Poor (S&P) yang kemungkinan akan
menaikkan peringkat Indonesia Sovereign
Bond menjadi investment grade – dari BBB- ke BBB. Saya berkata, kalau
sampai S&P bener meningkatkan peringkat Indonesia, Surat Hutang Indonesia –
atau yang biasa disebut dengan obligasi atau bonds – akan rally dan memperkecil angka yield pada obligasi Indonesia. NAH, pas
saya berbicara masalah hutang, kolega saya ini berkata, “Lah ngomongin surat
hutang, hutang Indonesia gimana tuh?”, kemudian saya jawab dengan santai, “ga
masalah lah pak, hutang Indonesia kan produktif dan menghasilkan multiplier effect yang cukup banyak
untuk ekonomi Indonesia kedepannya”. Eh, beliau malah ngelunjak terus bilang
kalo hutang Indonesia itu bermasalah dari jaman dulu. Saya cuma bisa diem dan
kemudian bilang lagi kalo itu tidak akan mempengaruhi harga obligasi negara
kalau S&P sudah menaikkan peringkat Indonesia, dan mana mungkin S&P mau
meng-asses Indonesia kalau misalkan hutang negara itu masih ga karuan.
Let me
layout the facts now. Betul bahwa Indonesia itu masih memiliki hutang, namun
hutang Indonesia itu tidak tergolong besar, debt to GDP ratio Indonesia hanya
27%, memang meningkat dari tahun sebelumnya, namun hutang-hutang di APBN 2017
merupakan hutang-hutang yang produktif.
Bar
chart di atas adalah data debt to GDP Indonesia selama 10 tahun terakhir, dan
memang benar pada masa Jokowi ratio-nya naik, namun ini merupakan hutang-hutang
yang sehat dan memiliki multiplier effect pada sektor-sektor lainnya.
Contohnya? Salah satu anggaran terbesar untuk 2017 adalah infrastuktur, kenapa
infrastruktur? Karena Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau,
sehingga jika infrastruktur di tiap pulau di bangun, bayangkan betapa mudahnya
akses ke daerah-daerah yang tadinya susah untuk di jangkau. Untuk diingat bahwa
infrastruktur ini bukan hanya membangun jalan raya saja, tetapi juga membangun
pelabuhan, terminal penumpang, bandara, pelabuhan laut dan lainnya yang dapat
menunjang bahkan mempermudah akses dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus mengeluarkan
dana yang besar kedepannya. Berikut alokasi APBN 2017 untuk Infrastruktur.
APBN untuk
pembangunan infrastruktur merupakan yang terbesar dari tahun-tahun sebelumnya
karena Jokowi berjuang untuk bisa mendapatkan kenaikkan peringkat tersebut. Untuk
jangka panjang, pembangunan infrastruktur ini akan membantu mempermudah akses
antar pulau dan juga akan membuat semua wilayah Indonesia dapat di akses dengan
mudah, sehingga biaya untuk pengiriman logistic
pun akan semakin murah dan harga bahan pangan akan lebih terkontrol dan lebih
terkendali. Kalau dibandingkan dengan rezim-rezim sebelumnya, hutang yang
digunakan hanya untuk memberi subsidi pada hal-hal yang sebenarnya tidak pada
tempatnya dan tidak menghasilkan multiplier
effect, sehingga hutangnya menjadi tidak produktif dan tidak menghasilkan
apa-apa – well, kalo harga murah
menjadi sesuatu yang bisa di nikmati – mungking oke – tetapi bukan merupakan
suatu investasi, karena dipakai sekali habis.
Kalau
masih belum percaya hutang Indonesia itu tergolong sedikit, berikut visual yang
saya ambil dari marketwatch.com beberapa minggu yang lalu. Anda bisa click link
untuk membaca beritanya di marketwatch.com. Cara membaca chart “The Snowball of Debt” adalah jika semakin
banyak hutang dari tiap masyarakat di sebuah negara, maka negara tersebut akan
makin ke tengah. Negara terlihat makin besar jika hutang per kapita untuk
membayar hutang negaranya semakin tinggi. Setelah melihat data hutang negara
lain, masih mikir kalau hutang Indonesia ga karuan? Semoga anda jadi lebih knowledgeable dan tidak menjadi orang
yang mudah menyalahkan orang lain, atau hanya sekedar mengeluh tapi tidak tahu
fakta-nya seperti apa. Jangan ignorant
dan coba cari tahu dulu sebelum berbicara, karena jika masyarakatnya sudah
pesimis dan sedikit-sedikit nyalahin pemerintah, negara ini tidak akan
kemana-mana. Ingat apa yang dikatakan oleh John
F. Kennedy saat pidato pelantikan, “Ask
not what your country can do for you – ask what you can do for your country”.
Sebenarnya
masih banyak uneg-uneg saya malam ini, tapi sepertinya waktu sudah menunjukan
pukulan untuk menuju kasur tidur. Saya kira cukup sudah keluh kesah saya
curahkan di blog kali ini, semoga bermanfaat tidak hanya untuk kolega saya,
tetapi untuk masyarakat luas.
Ini saya lampirkan foto trans-papua yang
sedang dibangun oleh pemerintahan Jokowi.




Share ahhhh hahaha
ReplyDeleteBoleh di share Selma. Semoga bermanfaat ya.
Delete