Skip to main content

2017 - A Year in Review

Di akhir tahun 2017, pasar saham global diwarnai oleh kegembiraan dimana ketiga indeks AS S&P500, Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat masing – masing +19,42%, +25,08% dan +28,24% sepanjang tahun 2017. Dari Eropa, Eurostoxx indeks ditutup menguat +6,49% full year (FY) 2017, indeks Jerman DAX +12,51% dan indeks Inggris FTSE100 ditutup menguat +7,63% pada periode yang sama. Dari Asia pun juga memiliki cerita yang sama, dimana Shanghai Composite meningkat +6,56%, dan indeks China Hang Seng meningkat secara signifikan di tahun 2017, naik +35,99%. Indeks Jepang NIKKEI pun mengikuti pergerakan pasar saham global, meningkat +19,10% di tahun 2017.
Dari sisi makro, perekonomian AS mulai terlihat perbaikannya – hal ini terefleksi pada data PDB atau GDP yang berada di level 2,3% secara YoY, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya di level 2,2% YoY. Inflasi di bulan November pun sudah berada di level 2,2%, sehingga Bank Sentral AS, the Federal Reserve meningkatkan suku bunga acuan Fed Fund Rate sebanyak tiga kali di tahun lalu, masing – masing sebesar 25 bps, yang pertama di bulan Maret, Juni dan yang terakhir di bulan Desember, mengkerek FFR dari range 0,75% - 1% di awal tahun menjadi 1,25% - 1,50% di akhir tahun 2017. Di samping itu, data pengangguran pun menurun sepanjang 2017, dimana bulan Desember, unemployment rate berada di kisaran 4,8% dan di bulan November bertengger di level 4,1%. Penjualan ritel pun meningkat di bulan November 2017 dilevel 5.8% secara YoY dimana awal tahun hanya 4% YoY dan level terendah di 2017 di bulan Juni di level 3% YoY.
Dari sisi politik, 2017 merupakan tahun yang penuh kejutan semenjak Trump dilantik dan resmi menjadi presiden AS pada tanggal 20 Januari 2017. Pada awal bulan Maret 2017 Trump remi mengangkat Steven Mnuchin – mantan investment banker di Goldman Sachs – menjadi Treasury secretary atau mentri keuangan AS. Di bulan April, Korea Utara (Korut) meluncurkan misil sebagai uji coba militer, namun presiden Trump merespon secara agresif sehingga membuat situasi dan kondisi politik tidak kondusif. Trump pun meluncurkan misil ke pangkalan udara militer Suriah setelah rezim Bashar Al-Assad menggunakan senjata kimia dan mengakibatkan banyaknya warga sipil yang terkena serangan tersebut.
Dari Eropa, pertumbuhan ekonomi terlihat meningkat secara bertahap di tahun 2017, dimana 3Q17 berada di level 2,6% YoY, lebih tinggi dibandingkan data 1Q17 yang hanya di level 2,1%. Tingkat pengangguran pun menurun dari 9,6% di bulan Januari, ke level 8,8% di bulan Oktober 2017. Inflasi sepanjang tahun 2017 pun terjaga di level 1,5% dengan range 2% - 1,4% secara YoY. Meski secara makro terlihat sehat, data penjualan ritel sempat meningkat ke level 4% YoY di bulan September yang merupakan level teringgi di tahun 2017, namun jatuh ke level 0,4% di bulan Oktober. Bank Sentral Eropa – yang lebih dikenal ECB telah mengkaji untuk melakukan pengetatan moneter di tahun 2018 ini, salah satu caranya adalah dengan memotong pembelian asset atau yang biasa disebut dengan quantitative easing dan memberi indikasi akan adanya peningkatan suku bunga acuan di tahun 2018.
Dari segi politik di Eropa, negosiasi Brexit yang dimulai di bulan Juni akhirnya mencapai pada kesepakatan yang disebut dengan “divorce-bill” di bulan Desember dan akan melanjutkan proses transisi dan hubungan antara Inggris dan Eropa di masa yang akan datang.
Kegembiraan pun tidak hanya dialami di pasar global, di Indonesia pun juga memiliki cerita yang serupa. Pasar obligasi dan pasar saham Indoensia masing – masing meningkat sebesar +17,41% dan +19,99% di tahun 2017, merupakan tahun yang sangat spektakuler untuk instrumen investasi. Secara sektoral, keuangan menjadi penopang utama IHSG, naik +40,52%, diikuti dengan industri dasar naik +28.06% dan barang konsumsi yang menguat +23,11% sepanjang 2017. Hanya dua sektor yang mengalami penurunan di tahun lalu, yaitu konstruksi & real estate turun -4,31% dan sektor pertanian melemah -13,30%. Di sisi lain, asing membukukan net sell sebesar IDR 39,9 tn sepanjang tahun 2017. Rupiah terdepresiasi 0,7% di tahun 2017, ditutup di level 13,568/USD.
Secara makro, perekonomian Indonesia tumbuh 5,06% di kuartal tiga dan inflasi terjaga di level 3,61% di bulan Desember. Anomali yang cukup menjadi perdebatan masyarakat adalah rendahnya daya beli masyarakat di tahun 2017. Hal ini terefleksi pada pertumbuhan kredit yang hanya tumbuh 7,5% di bulan November dan penjualan ritel pun mengalami penurunan yang cukup dalam di tahun 2017. Namun, diluar menurunnya daya beli masyarakat, secara fundamental makroekonomi Indonesia merupakan ekonomi yang kuat dengan cadangan devisa sebesar USD 130 bn di bulan Desember 2017 dan merupakan terbesar sepanjang sejarah. Neraca perdagangan di bulan November pun suplus USD 127 mio dengan surplus tertinggi sebesar USD 1,77 bn di bulan September 2017. Di akhir Januari, pemerintah memotong subsidi listrik 900 VA dan meningkatkan harga bensin non-subsidi Rp 300 dan biaya administrasi STNK dan BPKB naik 100% - 300%.
Indonesia mendapatkan angin segar di bulan Mei dimana lembaga pemeringkat S&P mengkerek peringkat dari BB (junk bond) menjadi BBB- (layak investasi). Di sisi lain, Moody’s memberi outlook positive untuk sektor perbankan Indonesia. Di bulan April, Jakarta menyambut guberbur baru setelah pilkada putaran kedua di bulan April dimenangkan oleh pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate (7DRRR) dua kali di tahun 2017, masing – masing sebanyak 25 bps, yang pertama di bulan Agustus dan September, 7DRRR diturunkan ke level 4,25%. Di penutupan tahun pun Fitch kembali mengkerek peringkat Indonesia dari BBB- menjadi BBB.
Outlook untuk tahun 2018 diprediksi positif, dimana daya beli masyarakat diharapkan akan meningkat dengan adanya dua event besar yang akan berlangsung pada tahun ini, pilkada serentak dan Asian games yang akan diselenggarakan pada semester kedua 2018. APBN 2018 pun berubah fokus dari infrastruktur ke subsidi, sehingga diharapkan masyarakat akan lebih percaya diri untuk memulai belanja. Inflasi akan lebih terjaga di tahun 2018, dengan target APBN di level 3,5% - tidak jauh dari level saat ini. Ditambah dengan penetrasi asing yang minim di 2017, sewajarnya meningkat setelah Rp. 39,9 tn keluar dari pasar saham ditahun sebelumnya.
Risiko di tahun 2018 adalah risiko pengetatan moneter oleh negara – negara maju seperti AS yang diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 3 kali, Bank Sentral Eropa yang sudah memberi sinyal akan mengurangi quantitative easing atau pembelian aset di tahun 2018, dan adanya kemungkinan mengkerek suku bunganya jika pertumbuhan ekonomi dan data inflasi sesuai dengan ekspektasi. Namun secara fundamental, Indonesia memiliki perekonomian yang kuat, sehingga sentimen negatif selain dari risiko politik dari dalam negeri cenderung minim.

Comments

Popular posts from this blog

Hutang Indonesia yang ga Karuan itu...

Sepertinya saya harus menulis sekarang karena sudah terlalu lama tidak berbagi, dan lagi-lagi saya terlibat debat yang agak membuat saya sedikit kesal dengan kolega saya di kantor. Sebenarnya sepele, tetapi kolega saya ini tidak memaparkan fakta-fakta yang ada – yaa bisa lah disamain sama pak Trump yang kerjaannya cuma berkoar-koar tapi isinya nol dan tidak solutif. Perdebatan ini dimulai dengan diskusi santai mengenai keadaan ekonomi global dan juga domestik. Pada saat itu saya berkomentar bahwa setelah Federal Reserve Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate , sepertinya dollar akan menguat dan pasar saham Indonesia akan sedikit melemah (tapi ternyata saya salah besar – yaaa…….nama juga memprediksi ya, kan bukan dukun juga ;P ). Kemudian saya juga berkomentar mengenai perusahaan pemeringkat kredit dari AS, Standard & Poor (S&P) yang kemungkinan akan menaikkan peringkat Indonesia Sovereign Bond menjadi investment grade – dari BBB- ke BBB. Saya berkat...

Sinarmas Bank Q2 Review

Despite lower net income compare the same period last year, Sinarmas have increased revenue by 41% yoy and increased its credit funds flow by 20% in the first half of 2014 where they aim to have 30% growth by the end of 2014. Operating expense increased by 45% yoy and COGS also increased by 48% which resulting a lower net income in 2Q 2014. In spite of all the increase in outflow and decreased in Net, Sinarmas claimed that the Loan to Value regulation does not impact their business operations in Credit automobile sector because most of the credit holder are those who buys cars instead of motorcycle, which have less risk. Sinarmas will also open 1,000 new branch office starting 2016 to support the growth of the company. With its massive growth in revenue, Sinarmas Bank seems to have a promising future. With relative small ROE of 3% in 2Q2014, it is still a cheap buy for those looking for a long term investment. Keep in mind that it is still a small cap company, and it is not as l...

A&Co July Result

After 3 months beating the market constantly, the Jakarta Stock Index (JKSE) finally beat our portfolio by 0.87%, not much, but it is still a disappointment. The grey line represents the abnormal return (Portfolio return - Index return) of the portfolio. Despite that, we made 74% from BSIM, and officially sold it on the 21st of July when the price suddenly jump 20% in just one day - which we thought a little bit weird and looks like it's going to be a rough ride going forward - hence we let it go. Despite the weird action, BSIM was one of our top stock, its monthly average was 19.92%, whereas its median is 0%, LITERALLY 0%, the high average is due to the sharp movement of 20% in one day. Our second top stock is ELSA, this stock also had a weird sharp movement on 13th of July, it jump to 58% in just one day, almost double in just one day. Unlike BSIM though, ELSA has a fairly high liquidity, thus we weren't very surprise on the big movement, and still have big hope with ELS...