Skip to main content

Mulai Tertutupnya Pintu Globalisasi di Barat

Globalisasi merupakan senjata utama untuk perekonomian negara dapat berkembang. Secara teori, jika ekspor dan impor dapat diterapkan secara teratur, maka perekonomian di kedua negara yang melakukan transaksi tersebut akan lebih efisien dan menguntungkan. Namun tidak semua masyarakat setuju dengan dasar teori ekonomi ini, masih banyak dari masyarakat di negara tertentu merasa dirugikan dengan adanya globalisasi karena banyak pekerjaan yang dipindahkan ke negara lain - yang seharusnya memiliki kemampuan lebih untuk pekerjaan tersebut. 

Dengan adanya perekonomian global, harga barang import pun bisa lebih murah - jika mata uang negara tersebut cukup kuat dan tidak memiliki tarif perdagangan yang ketat. Contoh yang sangat sederhana adalah produk apple, iPhone; di box iPhone tertuliskan "Designed in California, assembled in China", bahasa kasarnya, "Made in China". Apple merupakan satu dari sekian banyak perusahaan ternama di dunia yang meng-expor proses manufakturnya ke negeri tirai bambu demi memotong biaya produksi dan agar dapat memperoleh laba yang lebih besar. Selain dapat menguntungkan secara ekonomi, dampak positif dari ekonomi global adalah dapat mempererat hubungan politik antar negara. Meskipun ekonomi global memiliki banyak dampak positif, negara barat pelan-pelan mulai menutup pintunya kepada globalisasi karena merasa tidak dapat berkompetisi di negaranya sendiri, dan beberapa sudah mulai melakukan reformasi untuk menutup pintu tersebut. 

Salah satu negara yang sudah melakukan proses reform adalah Inggris Raya dengan julukannya Brexit/British Exit yang sudah positif keluar dari Uni Eropa (European Union/EU) setelah 43 tahun menjadi anggota. EU and the Brexit Referendum dilakukan pada tanggal 23 Juni, 2016 dengan hasil 51.89% memilih untuk meninggalkan EU, dan hanya 48.11% memilih untuk tetap menjadi anggota. 
Di kutip dari The Telegraph, alasan utama Inggris melakukan referendum ini karena Inggris kuatir akan tersedot kedalam United States of Europe (UNE), yang mungkin dibutuhkan untuk anggota EU lainnya, namun tidak untuk Inggris [link]. Di The Telegraph juga menjelaskan apa saja yang diminta oleh mantan perdana mentri Inggris - David Cameron. Salah satunya, dan yang cukup penting adalah memberhentikan migrasi besar-besaran yang terjadi di benua-nya saat ada negara baru yang bergabung dalam EU, dan peraturan imigrasi yang lebih ketat untuk memastikan bahwa imigran datang untuk bekerja bukan sebagai turis yang ingin mendapatkan free benefits atau manfaat gratis dari pemerintahan Inggris. Hasil dari referendum ini berdampak negatif terhadap mata uang Inggris - Pound-sterling (GBP). GBP terdepresiasi sebanyak 7.96% terhadap US dollar (USD) dalam satu hari. 
Per tanggal 14 Oktober, 2016, GBP sudah menyentuh 1.21797, lebih rendah sebesar 10.75% dari harga penutupan di tanggal 24 Juni, 2016. Nir Kaissar, Bloomberg Gadfly columnist mengambil rata-rata pergerakan GBP/USD selama 43 tahun terakhir, dan pergerakannya dalam tujuh tahun terakhir berada di bawah angka rata-rata tersebut. GBP/USD mengalami hal yang sama pada tahun 1985 dan mengalami pemulihan dalam waktu tiga tahun - dimana kurs sudah kembali ke nilai rata-rata [link]. 
Perubahan kurs GBP yang sangat drastis berdampak pada berbagai sektor industri, seperti Sports Direct, penjual peralatan olah raga; EasyJet, jasa penerbangan dengan harga yang relatif murah; dan Tesco, toko retail yang sudah memberi peringatan bahwa laba mereka akan menurun karena ketidak pastian kondisi ekonomi di Inggris. Sektor retail seperti Marks and Spencer, dan Sainsbury; dan sektor keuangan, seperti Barclays dan Lloyds Banking Group akan menghadapi banyak tekanan untuk dapat meningkatkan laba mereka pada tahun 2016 [link]. David Milliken dari Reuters mengatakan bahwa pelemahan GBP yang tajam ini akan mendorong harga-harga untuk meningkat pada awal tahun depan, dan akan menggerogoti daya beli masyarakat [link]. Ini baru sebagian dari dampak Brexit yang terlihat dengan kasat mata. 

Di lain benua - tepatnya di Amerika Serikat - sedang terjadi pertempuran antara dua kubu, yaitu Hillary Clinton dari Partai Democrat dan tentunya Donald Trump dari partai Republican, untuk menggantikan Obama pada bulan November nanti.


Banyak yang tidak mengira bahwa Donald Trump akan mewakili partai Republican untuk maju karena di awal perjalanannya, perkataan Trump sudah di kutuk oleh pihak minoritas dengan berkata "Saat Meksiko mengirim orang-orangnya ke Amerika, mereka tidak membawa yang terbaik! Yang mereka bawa adalah pengedar narkoba, kriminal, dan pencabul", dan perkataan itu dilontarkan pada saat ia memberi pengumuman bahwa dia akan menjadi kandidat kepresidenan. Jika anda mengikuti pemilihan presiden di Amerika ini, pastinya anda tahu bagaimana Trump menanggapi suatu debat, dan bagaimana dia menyampaikan hal-hal yang sangat provokatif saat berpidato di depan pendukungnya.    

Kilas balik pada bulan Juli 2016, pada pidatonya, Trump mengatakan bahwa dia tidak akan membawa pekerjaan keluar negri dan akan mempertahankannya di dalam negeri dan akan "membuat Amerika kaya lagi" dengan cara memindahkan perjanjian dagang yang menurut dia buruk. Dan Trump masih menambahkan pernyataan yang provokatif terhadap Cina; Trump berkata bahwa dia akan menghentikan pencurian hak intelektual milik Amerika Serikat yang dilakukan oleh Cina, dan menuduhnya telah memanipulasi mata uang [link].

Tidak hanya Meksiko dan Cina yang menjadi sasaran hangat Trump, dia juga mengeluarkan statement yang sangat provokatif terhadap Islam, dia mengatakan bahwa dia akan melakukan penutupan total terhadap para pendatang yang beragam Islam untuk mencegah terjadinya terorisme di Amerika Serikat [link]. Saat Trump ditanya kembali mengenai pernyataannya oleh Chuck Todd dari NBC, Trump menambahkan bahwa dia akan menganjurkan untuk memberhentikan imigrasi "dari semua negara yang pernah diganggu oleh terrorisme" [link]. 

Jika Donald Trump menang pada bulan November yang akan datang, ada kemungkinan besar Amerika Serikat akan menambah lawannya, dan kemungkinan besar lainnya adalah kehilangan mitra dalam perdagangan. Negri Paman Sam ini dapat mengalami apa yang sedang dialami oleh Inggris saat ini, jika Trump menang. Dollar dapat terdepresiasi, dan inflasi di Amerika Serikat dapat meningkat namun daya beli masyarakatnya menurun - yang akan berujung pada stagflasi. 

Secara teori, jika suatu negara tidak membuka pintunya kepada globalisasi, negara tersebut akan kesulitan untuk dapat ber-produksi secara maksimal. Sewajarnya, Adam Smith berkata bahwa the invisible hand akan mengatur dasar perekonomian suatu negara dengan sendirinya secara efisien. Maka untuk suatu Negara bisa bekerja secara efisien, globalisasi harus diterapkan agar masyarakatnya bisa lebih produktif dalam bekerja, dan negaranya pun dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya. 




Comments

Popular posts from this blog

Hutang Indonesia yang ga Karuan itu...

Sepertinya saya harus menulis sekarang karena sudah terlalu lama tidak berbagi, dan lagi-lagi saya terlibat debat yang agak membuat saya sedikit kesal dengan kolega saya di kantor. Sebenarnya sepele, tetapi kolega saya ini tidak memaparkan fakta-fakta yang ada – yaa bisa lah disamain sama pak Trump yang kerjaannya cuma berkoar-koar tapi isinya nol dan tidak solutif. Perdebatan ini dimulai dengan diskusi santai mengenai keadaan ekonomi global dan juga domestik. Pada saat itu saya berkomentar bahwa setelah Federal Reserve Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate , sepertinya dollar akan menguat dan pasar saham Indonesia akan sedikit melemah (tapi ternyata saya salah besar – yaaa…….nama juga memprediksi ya, kan bukan dukun juga ;P ). Kemudian saya juga berkomentar mengenai perusahaan pemeringkat kredit dari AS, Standard & Poor (S&P) yang kemungkinan akan menaikkan peringkat Indonesia Sovereign Bond menjadi investment grade – dari BBB- ke BBB. Saya berkat...

Sinarmas Bank Q2 Review

Despite lower net income compare the same period last year, Sinarmas have increased revenue by 41% yoy and increased its credit funds flow by 20% in the first half of 2014 where they aim to have 30% growth by the end of 2014. Operating expense increased by 45% yoy and COGS also increased by 48% which resulting a lower net income in 2Q 2014. In spite of all the increase in outflow and decreased in Net, Sinarmas claimed that the Loan to Value regulation does not impact their business operations in Credit automobile sector because most of the credit holder are those who buys cars instead of motorcycle, which have less risk. Sinarmas will also open 1,000 new branch office starting 2016 to support the growth of the company. With its massive growth in revenue, Sinarmas Bank seems to have a promising future. With relative small ROE of 3% in 2Q2014, it is still a cheap buy for those looking for a long term investment. Keep in mind that it is still a small cap company, and it is not as l...

A&Co July Result

After 3 months beating the market constantly, the Jakarta Stock Index (JKSE) finally beat our portfolio by 0.87%, not much, but it is still a disappointment. The grey line represents the abnormal return (Portfolio return - Index return) of the portfolio. Despite that, we made 74% from BSIM, and officially sold it on the 21st of July when the price suddenly jump 20% in just one day - which we thought a little bit weird and looks like it's going to be a rough ride going forward - hence we let it go. Despite the weird action, BSIM was one of our top stock, its monthly average was 19.92%, whereas its median is 0%, LITERALLY 0%, the high average is due to the sharp movement of 20% in one day. Our second top stock is ELSA, this stock also had a weird sharp movement on 13th of July, it jump to 58% in just one day, almost double in just one day. Unlike BSIM though, ELSA has a fairly high liquidity, thus we weren't very surprise on the big movement, and still have big hope with ELS...