Skip to main content

Haramkah Saham?

Saham merupakan suatu instrumen finansial yang cukup menarik untuk para investor yang memiliki toleransi resiko cukup tinggi. Sebenarnya, apa sih saham itu? Mungkin tidak semua orang mengerti dengan keberadaan saham di dunia investasi. Menurut investopedia.com, saham adalah Security that signifies ownership in a corporation and represents a claim on part of the corporation's assets and earnings, dalam arti lain, saham adalah suatu surat jaminan yang menyatakan kepemilikan di dalam suatu perusahaan dan merupakan hak atas sebagian dari aset dan pendapatan perusahaan. Maka dari itu, saham adalah suatu surat berharga yang menyatakan suatu kerja sama antara kedua belah pihak (investor dan perusahaan). 

Diluar dari pengertian dasar saham, teknis atas perdagangan saham sudah semakin maju. Perdagangan saham sudah tidak mewajibkan perusahaan untuk mencetak saham tersebut, semua perdagangan saham sudah menggunakan teknologi, dimana investor cukup menekan tombol enter dan sudah dapat membeli atau menjual suatu saham. Proses dari perdagangan saham ini sudah sangat cepat dan hanya butuh waktu beberapa detik untuk dapat menjual atau membeli - namun ini tergantung dari likuiditas saham perusahaan tersebut. 

Yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah unsur risiko dari instrumen tersebut. Memang perdangan saham tergolong sebagai instrumen yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi, namun memiliki pendapatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan instrumen finansial lainnya. Masyarakat pun mulai memasukan unsur spekulasi kedalam instrumen saham, dan hal ini sama sekali tidak salah karena memang banyak investor spekulan - yang biasa disebut sebagai day trader - yang mengeksploitasi pasar saham di Indonesia untuk mendapatkan profit. Dari adanya unsur spekulasi ini, resiko untuk berinvestasi pun makin tinggi karena makin tingginya ketidak pastian dalam berinvestasi saham. Unsur haram pun mulai di lontarkan oleh masyarakat karena adanya unsur ketidak pastian tersebut. 

Sebetulnya haram ga sih saham itu? Jika dibedah secara mendasar, saham tidaklah haram, karena di Islam tidak melarang kerjasama di suatu bisnis. Saham pun tidak menggunakan unsur margin di dalam perdagangannya, jadi investor bisa menjual beli saham dengan uang yang sudah di setor. Contohnya, A hanya memiliki uang 10,000,000 untuk bermain saham, disaat A membuka rekening investasi, broker akan memberikan fasilitas pinjaman untuk A, agar dapat membeli lebih banyak saham dari jumlah uang yang sudah disetor, namun A tidak harus menggunakan fasilitas tersebut. Selama A tidak menggunakan fasilitas pinjaman tersebut (margin), maka perdagangan saham yang dilakukan A adalah halal. 

Faktor lain yang perlu diketahui adalah jenis bisnis dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang diperdagangkan harus memiliki bisnis yang halal, contohnya seperti perusahaan telco, property, perusahaan infrastruktur dan lain sebagainya. Indonesia pun memiliki index untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki bisnis model yang halal, yaitu Jakarta Islamic Index, dan anda bisa melihat list perusahaannya di link berikut. Jadi, jangan takut untuk memulai berinvestasi di saham karena saham merupakan surat perjanjian kerjasama antara investor dengan perusahaan. Disini saya tekankan kerjasama karena disaat perusahaan untung, maka sahamnya bisa melambung dan bisa membagikan dividen lebih tinggi, namun sebaliknya jika perusahaan merugi, maka harga saham akan ikut turun, dan ada kemungkinan perusahaannya tidak membagikan dividen (ini adalah unsur bagi hasil atau profit sharing yang tidak diharamkan di hukum islam)

Unsur spekulasi merupakan niat dan kewenangan setiap investor, maka spekulan akan selalu ada di pasar saham. Namun, jika niat kita adalah untuk berinvestasi bukan untuk berspekulasi, maka niat kita baik, dan kita tidak ada niat untuk mengeksploitasi pasar saham. Di blog saya berikutnya, saya akan mencoba menjelaskan instrumen berjangka atau biasa disebut dengan futures market dan kenapa instrumen ini sangat berbeda dengan saham dan tergolong haram.

Selamat berakhir pekan

-Salam Saham!

Comments

Popular posts from this blog

Hutang Indonesia yang ga Karuan itu...

Sepertinya saya harus menulis sekarang karena sudah terlalu lama tidak berbagi, dan lagi-lagi saya terlibat debat yang agak membuat saya sedikit kesal dengan kolega saya di kantor. Sebenarnya sepele, tetapi kolega saya ini tidak memaparkan fakta-fakta yang ada – yaa bisa lah disamain sama pak Trump yang kerjaannya cuma berkoar-koar tapi isinya nol dan tidak solutif. Perdebatan ini dimulai dengan diskusi santai mengenai keadaan ekonomi global dan juga domestik. Pada saat itu saya berkomentar bahwa setelah Federal Reserve Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate , sepertinya dollar akan menguat dan pasar saham Indonesia akan sedikit melemah (tapi ternyata saya salah besar – yaaa…….nama juga memprediksi ya, kan bukan dukun juga ;P ). Kemudian saya juga berkomentar mengenai perusahaan pemeringkat kredit dari AS, Standard & Poor (S&P) yang kemungkinan akan menaikkan peringkat Indonesia Sovereign Bond menjadi investment grade – dari BBB- ke BBB. Saya berkat...

Sinarmas Bank Q2 Review

Despite lower net income compare the same period last year, Sinarmas have increased revenue by 41% yoy and increased its credit funds flow by 20% in the first half of 2014 where they aim to have 30% growth by the end of 2014. Operating expense increased by 45% yoy and COGS also increased by 48% which resulting a lower net income in 2Q 2014. In spite of all the increase in outflow and decreased in Net, Sinarmas claimed that the Loan to Value regulation does not impact their business operations in Credit automobile sector because most of the credit holder are those who buys cars instead of motorcycle, which have less risk. Sinarmas will also open 1,000 new branch office starting 2016 to support the growth of the company. With its massive growth in revenue, Sinarmas Bank seems to have a promising future. With relative small ROE of 3% in 2Q2014, it is still a cheap buy for those looking for a long term investment. Keep in mind that it is still a small cap company, and it is not as l...

A&Co July Result

After 3 months beating the market constantly, the Jakarta Stock Index (JKSE) finally beat our portfolio by 0.87%, not much, but it is still a disappointment. The grey line represents the abnormal return (Portfolio return - Index return) of the portfolio. Despite that, we made 74% from BSIM, and officially sold it on the 21st of July when the price suddenly jump 20% in just one day - which we thought a little bit weird and looks like it's going to be a rough ride going forward - hence we let it go. Despite the weird action, BSIM was one of our top stock, its monthly average was 19.92%, whereas its median is 0%, LITERALLY 0%, the high average is due to the sharp movement of 20% in one day. Our second top stock is ELSA, this stock also had a weird sharp movement on 13th of July, it jump to 58% in just one day, almost double in just one day. Unlike BSIM though, ELSA has a fairly high liquidity, thus we weren't very surprise on the big movement, and still have big hope with ELS...